TEBO – Jurnalisbuana.com
Kisruh soal penganiayaan Santri di Ponpes Al Inayah terus berlanjut, usai PP Al Inayah mengeluarkan hak jawab/ hak sanggah yang menyatakan bahwa “Tidak ada Penganiayaan santri dan Santri kembali belajar di Pondok”, melalui Media Center PP Al Inayah.
Pernyataan bantahan pihak PP Al Inayah soal Penganiayaan Santri tersebut di publikasikan oleh media online Teboonline.id, Portalkita.net, dan Global Warta Tv pada Rabu, 3 Desember 2025.
Esoknya, Kamis 4 Desember 2025, orang tua Santri Al Inayah ,Serda ZH, yang bertugas di Kodim 0310 Sawahlunto Sijunjung (Kodim 0310/SS) sebagai Intel menelpon media ini dan menyampaikan rasa kecewa serta amarahnya terkait pemberitaan sanggahan dari PP Al Inayah yang menyatakan tak ada Penganiayaan Santri.
“Sungguh terlalu pihak Ponpes buat pernyataan seperti itu seolah melindungi kekerasan yang ada di Ponpes, seharusnya ada pernyataan dari Ponpes tidak mendukung kekerasan ada di pondok, bukan sebaliknya menutup nutupi kekerasan di Ponpes”, ujarnya meluapkan rasa kecewa dari sikap pihak Ponpes, bahkan terlontar juga kata makian karena kecewa dan marahnya.
“Kalau tidak ada kesalahan dari pihak pondok melalui satpamnya kenapa kok satpamnya mau mereka ganti. Kita mau mediasi kekeluargaan karena pertimbangan anak saya sudah di kelas 3 SMP dan sebentar lagi ujian, tapi setelah mediasi ,pernyataan pondok justru menyudutkan anak saya seolah anak saya tidak mengalami perlakuan penganiayaan /kekerasan”, ujar Serda ZH.
“Betul pihak Ponpes sudah datang kerumah, namun poin permintaan kami yang 2 butir yaitu Anak saya mendapat jaminan perlindungan jika kembali masuk ke pondok dan satpam pelaku pemukulan di pecat, belum mendapat jawaban karena belum ada tertuang hitam diatas putih, kok malah seperti ini”, sambung Serda ZH lagi.
“Sampai hari ini, anak saya masih dirumah dan belum kembali ke Pondok. karena masih ketakutan akibat penganiayaan yang dialaminya di Ponpes”.
Diujung komunikasi, Serda ZH kemudian meminta nomor dari media Teboonline.id yang menurutnya pemberitaannya menyudutkan anaknya yang seharusnya justru menjadi korban, apalagi dirinya merasa tak pernah berkomunikasi atau di konfirmasi sebelumnya oleh media yang bersangkutan.( soer)






